Rangsang Budaya Literasi, Pemkot Bandung Lantik Budaya Literasi Tingkat Kecamatan

BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melantik 30 Bunda Literasi tingkat kecamatan. Keberadaan Bunda Literasi tersebut menjadi upaya Pemkot Bandung untuk menggedor minat baca masyarakat.

Ini juga bagian dari merespon Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.

Bunda Literasi Kota Bandung, Siti Muntamah menuturkan, untuk bisa mewujudkan visi Bandung Unggul maka kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) harus ditingkatkan. Peningkatan kapasitas SDM tersebut salah satunya dengan budaya literasi.

Untuk menumbuhkan budaya literasi tersebut, perempuan yang akrab disapa Umi ini menilai fondasi kuat harus dibangun dari lingkungan keluarga. Oleh karenanya, keberadaan Bunda Literasi tingkat kecamatan diharapkan mampu menjadi pemicu bagi masyarakat sekaligus memperkuat di lingkungan keluarga.

“Keluarga berkualitas adalah keluarga yang melek literasi mamu menata dan mengelola semua yang terjadi di lingkungannya. Kita olah sedemikian rupa dan minimal mampu memformulasikan di keluarga. Bunda literasi terus dibutuhkan untuk membuka pintu jendela ilmu pengetahuan demi kesuksesan masa depan,” kata Umi di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Selasa (30/4/2019).

Umi menambahkan, sosok perempuan menjadi pintu pertama menularkan budaya literasi. Oleh karenanya, kampanye budaya literasi melalui Bunda Literasi diharapkan mampu menjangkau masyarakat secara efektif.

“Sejak 6 bulan di rahim ibu setiap manusia sudah melakukan literasi dengan apa yang dikatakan dan perasaan ibu. Hanya tinggal melakukan penajaman untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik,” imbuhnya.

Umi mengungkapkan, dalam konteks keagamaan, dalam hal ini bagi para umat Islam budaya literasi merupakan arahan langsung dari Allah SWT seperti yang tertera dalam kitab suci Alquran.

“Literasi itu sangat penting, karena salah satu ayat yang pertamakali membuka cakrawala sangat luas yaitu iqra atau membaca. Dari tidak tahu menjadi tahu, membaca inilah menjadi satu ikhtiar untuk membuka wawasan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pustakawan Perpusnas RI, Opong menyatakan, dalam safari gerakan budaya membaca tahun ini Perpusnas mengusung tema Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.

“Inklusi sosial adalah pendekatan berbasis kemanusian, pendekatan inklusif memandang perpustakan subsistem sosial dalam. Untuk itu perpustakan mampu menjadi ruang masyarakat untuk menghadirkan solusi dan peningkatan taraf hidup masyarakat melalui literasi,” beber Opong.

Opong menuturkan, pemerintah daerah harus mamu menyediakan sarana perpustakaan di tempat umum. Selain pelayanan, sambung dia, juga harus diimbangi dengan kualitas konten yang disajikan perpustakaan di tengah lingkungan masyarakat.

“Kehadiran perpustakaan harus memberikan layanan kepada masyarakat dan harus menjadi tempat berkegiatan berbagi sebagai ruang berbagi pengalaman, ruang belajar dan ruang berlatih. Peran untuk menghubungkan sumber pengetahuan,” katanya. (Bobby-Levi/djitu.net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *