OPINI : Imbas Panasnya Kampanye Pilpres 2019 Pada Masyarakat

Oleh : Mulyadi

Kampanye untuk pemilihan presiden tahun 2019 tinggal menghitung hari lagi, dua kandidat pasangan calon presiden telah memulai perang strategi kampanyenya bahkan sebelum massa kampanye itu sendiri dimulai.

Tim pemenangan kedua kubu berlomba saling menaikkan pamor jagoannya masing-masing dengan cara dan strategi yang dianggap jitu, mulai dari pencitraan sampai black champagne dengan mencari-cari kesalahan dan kelemahan lawannya. Dan sesekali memunculkan berita-berita hoax yang membingungkan masyarakat awam hingga berdampak pada keselarasan dan keharmonisan kehidupan dimasyarakat.

Penulis sendiri yang tinggal di satu daerah perkampungan di jantung kota Bandung merasakan dampak yang sangat jelas pada perubahan sikap dan perilaku beberapa masyarakat sekitar dalam menghadapi masa kampanye pilpres tahun  ini.

Hubungan silaturahmi antar warga yang sebelumnya cukup harmonis, mulai sedikit terganggu dengan suasana kampanye yang mulai menjurus pada pengelompokan antar kubu. Masyarakat pendukung kedua calon presiden mulai dengan terang-terangan  saling mengklaim bahwa kubu lawannya kurang baik dan pilihannya adalah yang lebih baik. Dan hal ini makin diperparah dengan hadirnya calon legislatif didaerah-daerah tersebut yang dengan sengaja membentuk kelompok-kelompok untuk berkampanye dan sekaligus memperlebar jurang perbedaaan pilihan yang ada dimasyarakat.

Perang urat syaraf pendukung kedua kubu bukan hanya terjadi ditingkat masyarakat secara langsung, tapi juga terjadi didunia maya melalui medsos-medsos yang tersebar dalam hitungan detik dan bisa diakses oleh semua orang, penulis sendiri sering mendapatkan kiriman berita melalui grup WA atau Facebook yang isinya bukan prestasi atau visi misi calon presiden, tapi lebih sering berita tentang kejelekan calon lawannya. Dan bahkan dalam suatu keluarga teman penulis, terjadi perselisihan adik dan kakak hanya karena masalah beda pilihan pasangan calon presiden, hingga mereka saling berdiam diri meski tinggal dalam satu atap yang sama.

Kampanye damai yang pernah diikrarkan bersama-sama sebelum masa kampanye, hanya menjadi sekedar lipstick pemanis dari kedua kubu. Terbukti sampai sekarang masih bertebaran berita-berita yang menyerang calon lawan, bukan hanya dari para pendukungnya sendiri, melainkan langsung diucapkan oleh pasangan calon presiden sendiri melalui acara debat yang disiarkan telivisi dan dilihat oleh sebagian besar masyarakat kita. Dalam dua kali acara debat tersebut, kita tidak disuguhkan perang konsep atau program hebat yang akan mereka lakukan bila terpilih nanti, tapi kita dipertontonkan debat dua pasangan yang saling menyerang kekurangan lawannya, dan parahnya perdebatan keduanya lebih banyak mengarah pada hal-hal yang jauh dari substansinya sebagai calon presiden.

Bila gaya kampanye kedua kubu masih tetap seperti ini sampai pemilihan nanti, penulis khawatir akan timbul percikan permasalahan dimasyarakat akibat dari perbedaan pilihan yang terjadi. Kampanye dengan mengajak masyarakat ikut terlibat dalam praktik-praktik kurang baik dengan menyerang lawan atau menggunakan berita hoax dan masyarakat turut menyebarkan melalui medsos dan obrolan, maka bisa dibayangkan bila kubu yang kalah nanti tidak bisa terima dengan hasil yang terjadi. Kemungkinan bisa timbul ketegangan diantara pendukung kedua kubu, dan bila itu terjadi maka yang paling dirugikan adalah kita (masyarakat) sendiri.

Mengingat itu semua, kita sebagai masyarakat harus lebih jeli dalam memberikan dukungan kepada pilihan kita. Lebih bijak dalam menyikapi perbedaan pilihan dan juga tidak terbawa arus kampanye yang menyerang lawan atau ikut menyebarkan berita-berita yang kita sendiri ragu akan kebenarannya. Biarkan para tim pemenangan melakukan tugasnya berkampanye dan kita sebagai penonton cukup memperhatikan, menilai lalu memutuskan pilihan kita.

Penulis sendiri sampai saat ini belum bisa menentukan pilihan pada salah satu pasangan calon presiden, tapi tetap berharap pilpres sekarang bisa berjalan lancar, damai dan menghasilkan pemimpin yang memang diinginkan oleh semua masyarakat Indonesia.

Berkampanye dan berbeda pilihan bukanlah suatu hal yang negatif atau melanggar hukum, tapi bila hal tersebut mulai menimbulkan perpecahan pada masyarakat kita, maka sudah sepantasnya kita semua perlu untuk merenungkannya kembali apa yang sedang terjadi, dan bersama-sama mencari solusi untuk mempertahankan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Mulyadi Jurnalis dan Aktivis Sosial

* Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pemikiran penulis sendiri dan tidak berhubungan dengan kampanye salah satu pasangan calon presiden.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *