Peluru Sang Calon

Oleh : MULYADI

Pemilu Pemilihan presiden saat ini, berpotensi menaikkan suhu politik menjadi lebih panas dibandingkan dengan pemilihan legislatif atau Pilkada. Situasi panas ini akan semakin terasa hingga pemilihan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 nanti.

Tim pemenangan kedua kubu akan saling berusaha tampil lebih baik dari lawannya dengan menggunakan cara-cara kampanye yang sudah mereka rencanakan. Sebagai tim pemenangan mereka pasti sudah menyiapkan segala strategi pemenangan sedemikian rupa, mulai dari strategi pencitraan untuk menaikkan elektabilitas sampai strategi black campaign untuk menjatuhkan nama baik lawannya.

Ibarat pemain catur, semua langkah sudah disusun rapi dan tinggal dijalankan sesuai keadaan dan situasi yang akan terjadi. Raja (Calon Presiden) ditempatkan pada posisi paling aman agar tidak mudah diserang lawan, menteri dan para pembantunya bergantian menjalankan tugas dan peran masing-masing, mulai dari siapa yang akan menyerang, bertahan dan siapa yang akan dikorbankan bila memang membutuhkan tumbal. Semua dilakukan dengan satu tujuan untuk memenangkan calon yang di usungnya.

Seperti biasa masyarakat akan banyak berharap dan bahkan mungkin sebagian percaya bila pilihannya menang maka akan terjadi perubahan dinegara ini. Tapi perubahan yang seperti apa? Sepertinya masyarakat masih belum mau belajar dari pilpres tahun-tahun sebelumnya, berapa kali pilpres dilaksanakan dan berapa banyak janji yang ditebarkan, tapi apakah ada perubahan dalam kehidupan mereka? Saya rasa semua akan tetap sama seperti sebelumnya, yang pedagang akan tetap berdagang, yang sopir tetap menjadi sopir dan yang berprofesi lainnya juga akan tetap sama seperti sebelumnya.

Perubahan hanya akan terjadi pada mereka-mereka yang berada diatas, karena langsung bersinggungan dengan calon yang dimenangkannya. Mereka bisa saja menjadi asisten, menteri, pejabat publik atau apapun yang bisa mereka manfaatkan dengan kewenangan yang dimiliki calon yg di usungnya. Kita sebagai rakyat akar rumput akan kembali beraktifitas dengan profesi kita sebelumnya tanpa ada perubahan apapun.

Disini saya tidak menganjurkan pembaca untuk pesimis ataupun golput pada pemilihan nanti, bahkan saya menyarankan kepada pembaca untuk menggunakan hak pilih sebaik-baiknya. Pilihlah calon yang sesuai dengan hati nurani kita, jangan termakan dengan perang kampanye yang semakin membingungkan sehingga mengaburkan penilaian kita yang sebelumnya. Tugas kita adalah memilih, bukan ikut-ikutan dalam memvonis, menghujat, ataupun menyebarkan berita-berita yang bahkan kita sendiri masih ragu pada kebenarannya. Sehingga bila terjadi salah informasi, kita berada dalam posisi yang aman tidak tersangkut dalam persoalan yang bisa menyeret kita dalam masalah hukum.

Jangan lupakan kasus-kasus sekitar kampanye pilpres yang menimpa masyarakat awam beberapa hari ini, karena ketidak pahaman mereka dalam masalah hukum, mereka latah ikut-ikutan melakukan hujatan dan hinaan pada salah satu capres, sehingga akhirnya mereka harus berhadapan dengan permasalahan hukum.

Bagus Bawana saat ini harus berhadapan dengan masalah hukum, karena telah menyebarkan cerita tentang 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos nama calon tertentu, dan saat polisi melakukan penyelidikan, ternyata semua ceritanya tidak terbukti, dan di Karawang, tiga ibu rumah tangga ditangkap polisi Karena diduga telah melakukan kampanye hitam pada salah satu paslon. Bahkan sosok seperti Ratna Sarumpaet juga harus berhadapan dengan hukum saat dia menyebarkan sebuah cerita yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.

Fenomena apa yang sedang terjadi pada masyarakat kita dewasa ini, kenapa mereka sampai bisa  melakukan hal seperti itu dan apa untungnya bagi mereka? Saya sendiri sampai sekarang masih belum bisa menemukan alasan yang logis tentang tindakan mereka. Tindakan ini sangat jauh dari logika  bila menghitung keuntungan dan resiko yang akan mereka hadapi, andai calon mereka menang nanti, apa yang akan mereka dapatkan? Paling hanya kepuasan hati karena telah ikut berperan dalam memenangkan pilihannya, tapi saat resiko itu terjadi bukan hanya dia seorang yang merasakan akibat dari perbuatannya, tapi keluarga mereka juga ikut menanggung akibatnya. Sungguh satu pilihan yang sangat tidak rasional bagi orang-orang yang berpikiran jernih.

Kita sebagai warga negara yang baik, wajib menggunakan hak pilih kita pada pemilu nanti, tapi tidak harus terlibat dalam hiruk pikuk kampanye yang semakin sengit, tugas kita hanya menentukan pilihan dan mencoblos saat di TPS nanti. Biarkan para tim kampanye kedua kubu saling berbalas pantun, saling memuji calon masing-masing dan saling menjelekkan kubu lawannya, kita ini hanya penonton jangan ikut turun ke gelanggang permainan, karena ketidak tahuan kita bisa mengacaukan aturan main yang sudah disepakati, atau bahkan mungkin ada yang sengaja memancing kita agar masuk gelanggang dan melakukan apa yang mereka inginkan, karena mereka sendiri tidak berani melakukannya.

Harapan saya dan mungkin juga menjadi harapan sebagian besar pembaca tulisan ini, untuk tim kampanye kedua kubu, berkampanyelah yang santun dengan lebih banyak memaparkan visi misi dan program yang hebat dari calon masing-masing, hindari kampanye hitam yang bisa merugikan masyarakat yang kurang paham politik, tunjukkan pada masyarakat luas bahwa calon yang di usung memang layak menjadi pemimpin di negeri ini. Jangan jadikan rakyat sebagai tumbal untuk kepentingan kampanye,  dan jangan pecah belah rakyat hanya karena kepentingan sesaat, sadarlah bahwa rakyat adalah pemilik negeri ini, bukan peluru untuk sang calon.

MULYADI  Jurnalis dan Aktivis Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *