MENYIKAPI, MEMAHAMI SIKAP ISTRI DAN MENJALIN HUBUNGAN RUMAH TANGGA YANG BAIK DAN NYAMA

Di dalam rumah tangga, banyak sekali pertanyaan dari laki-laki atau suami untuk menyikapi sikap istri yang terkadang membuat para suami kesal bingung bahkan menjadikan rumah tangga tidak nyaman, selain Itu menyebabkan tidak betah dirumah, lebih parah lagi menimbulkan keretakan dalam rumah tangga.

Dan efek lebih buruknya menyebabkan keruntuhan mental dari anak-anaknya atau dalam kata lain Broken Home, yang pada akhirnya banyak anak yang berperilaku negatif atau kriminal. Hal ini banyak terlihat banyak anak yang hancur prilakunya dalam kehidupan kita.
Jelas harus kita sadari, Itu salah satu efek dari ketidakharmonisan hubungan rumah tangga para orangtuanya sendiri.

Beberapa pertanyaan Itu diantaranya :
1. Bagaimana profiling dan menghadapi karakter istri yang pemarah dan reaktif ketika ada masalah. Misalnya, suka memaksakan kehendak, meledak-ledak dan ngambekan? Padahal seringkali suami tidak faham arti marah istrinya tersebut.

  1. Bagaimana treatmen pada istri yg malas nyetrika, kalau suami mencari baju yg di perlukan “seperti harus ngocok kuis terus” karena saking numpuk banyak dan tidak dirapihkan oleh sang istri?
  2. Bagaimana jika istri suka PHP suami?. Kalo suami sedang bekerja katanya kangen, “Ayah cepat pulang…mamah kangen”. Kenyataannya kalau suaminya pulang bekerja.
    Setelah suami pulang, “Mah pijitin ayah, karena terasa pegal dan lelah.
    Lalu istri menjawab “aduhhhh cape Yah, tangan sudah cape dan lelah..”. Itu salah satu dalih dari istri.
    Para suami juga Sering protes dan mengeluhkan bahwa istrinya sering tidak menuruti nasehat-nasehatnya. Sering istri melanggar karena kadang apa yang di sarankan suami tidak sesuai dengan keinginan istri.

Kasus l. Pemarah dan reaktif ketika ada masalah, suka memaksakan kehendak, meledak-ledak dan ngambekan. Kadang marah tanpa ketahuan sebabnya
Kasus ll. Malas
Kasus lll. Sering ga manut

Cara Untuk menyikapinya :

Buat para suami yang soleh.

Profiling Tahap 1 adalah memahami (meresume) profil istri. Setelah itu, temukan analogi atau visual dari karakter istri, misalnya :

Kasus l : (jiwa) saat dirinya masih anak-anak dengan gangguan emosi
Kasus ll : (Jiwa) saat masa kecilnya pemalas
Kasus lll : (Jiwa) disaat kecilnya yang susah nurut.

Tahap 2, yaitu yg harus terus dilakukan adalah menelusuri riwayat tumbuh kembang istri sehingga menemukan apa yang berperan besar dan yang menjadi penyebab dalam membentuk profil tersebut.
Setelah mengetahui (kronologi) riwayat terbentuknya pribadi istri, Tahap 3 adalah munculkan dalam diri anda empati, rasa kasihan dan motivasi menolong. Mengapa ? Karena dia notabene adalah ‘korban’ terdampak pola asuh orangtuanya dan pengalaman masa lalunya, dan masih harus menanggung konsekuensi dari profil negatif tersebut sampai saat sekarang di masa dewasanya.
Tahap ini  harus dipenuhi, agar sanggup melakukan profiling di Tahap 4 yaitu :

a) Memilih sikap terbaik (dalam rangka meminimkan konflik sepanjang interaksi dengan yang bersangkutan), sekaligus menjaga hubungan baik dan treatmen awal bagi yang bersangkutan.
Dalam kasus-kasus di atas, bayangkan bahwa anda selalu akan berurusan dengan ‘anak kecil’ ini dengan semua karakter negatifnya.

Perlu kita sadari bahwa menghadapi istri dengan jengkel dengan marah-marah akan menambah beban berat baik bagi Anda maupun yang bersangkutan, lagipula hal itu tidak akan membawa perbaikan apapun. Maka cara bersikap terhadap pasangan yang demikian adalah sebagai berikut :

Kasus l : Menjadi Anda yang jauh lebih ngemong, bersikap tenang dan menenangkan, selalu bicara hanya pada inti persoalan.
Baca, fahami dan sikapi  istri, abaikan sikap istri yang kekanakan dan emosional.
Selain menjadi contoh, suami sesekali mengarahkan istri bagaimana berkomunikasi dengan cara yang baik, belajar mengekspresikan diri dengan cara positif dan dewasa.

Kasus ll : suami harus faham kapasitas istri (manajemen diri lemah, atau memang fisik gampang ngedrop plus pelupa atau karena sebab lainnya).
Sebagai antisipasi, suami harus rela menyiapkan sendiri untuk hal-hal urgent, memberi permaafan terlebih dulu, sembari bertahap melatih istri agar amanah dalam urusan suami khususnya keperluan yang urgent.

Kasus lll :  suami sebaiknya mengurangi arogansi bahwa saran suami semuanya harus diikuti. Akan lebih baik jika tidak melihat satu arah saja, tetapi juga mendalami mengapa istri punya pendapat lain, apa alasannya, apa solusi alternatifnya, apa konsekuensi dan antisipasinya. Krna tidak jarang, istri memiliki pertimbangan yg lebih matang.

Hal berikutnya yang perlu dieliminasi adalah under estimate terhadap istri, dan irrational anxiety atau kekhawatiran yang kurang proporsional. Dua hal ini biasanya menyebabkan suami dominan dan banyak aturan yang justru mempersulit istri bahkan mendzalimi.
Inilah mindset yang perlu dibuang sehingga akan meminimkan sikap istri yang ‘membandel’ pada arahan suami.

*b). Menyiapkan strategi dan antisipasi, dalam rangka meminimkan emosi atau pribadi saat karakter/sikap negatif dari yang bersangkutan muncul.

Kasus l : Menjadi good listener, lebih selektif lagi memilih hal positif apa yg harus dikatakan/dilakukan. Anda lebih mainkan peran sebagai sosok ayah, membaca/melihat ke dalam (map/peta dan inti persoalan), sehingga mampu menenangkan, juga nge-coach yang bersangkutan untuk lebih tenang.

Istri ekstro yang tempramen, kalau sedang ‘meledak-ledak biasanya butuh dibantu redakan emosinya sembari didoakan, bukan ditinggal pergi ngopi atau didiamkan.

Kasus ll : saat benar-benar istri mengabaikan urusan suami (pakaian tidak siap, mengelak halus saat dimintai tolong memijat dan sebagainya). Justru inilah saatnya suami melepaskan harapan kepada makhluk dan beralih fokus kepada Allah. Berusaha ridho pada takdir, tawakkal, memaafkan istri kemudian berdoa memohon kemudahan dan pertolongan.

Kasus lll : Saat terulang lagi ketidak patuhan istri, dibutuhkan kebesaran hati suami dan ridhonya pada qadla, agar terhindar dari amarah dan kejengkelan pada istri yang membuat qalbu istri nantinya semakin gelap dan malah makin sulit untuk dibina Dan akibatnya suami jugalah yang merugi.
Suami boleh saja berangan-angan (istri taat) tapi haruslah siap ridho pada takdir, tawakkal, maafkan istri lalu berdoa memohon kekuatan untuk memperbaiki diri dan membina istri.

Wallahu a’lam bishowwab
Semoga Allah memudahkan kita semua menjadi pasangan yang selalu mengingat keterlibatan, peran dan sifat-sifat KeAgungan Allah Subhanahuwata’ala. Sehingga rumah tangga kita selalu dinaungi dengan rahmat, hidayah dan pertolongan Allah Yang Maha Baik Dan Maha Indah.
Biiznillah wal Barakallah Aamiin Yaa Rabb.
(Agus Jaya Sudrajat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *