Pemilihan Legislatif “Memilih Wakil atau Bos (Rakyat)?”

Oleh : MULYADI

BANDUNG – Pemilu Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif tinggal beberapa hari lagi (17 April 2019), rakyat sebagai pemilih sudah mulai menerima segala informasi tentang para calon baik dari Pilpres maupun Pileg. Semua informasi tentang para calon dengan sangat mudahnya bisa kita temukan melalui banner dan pamflet yang ditempelkan di hampir setiap sudut gang, tiang listrik maupun pada beberapa tembok rumah warga, informasi juga disebarkan melalui medsos-medsos yang langsung bisa diakses oleh setiap orang yang memiliki Android.

Disini penulis hanya akan membahas tentang pemilihan Legislatif yang akan digelar berbarengan dengan pemilihan Presiden tahun ini. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa Pemilihan Legislatif adalah mencari dan menempatkan wakil rakyat untuk mewakili segala kepentingan rakyat dan mengawasi kinerja pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Fungsi wakil rakyat (DPR) yang meliputi Legislasi, anggaran dan pengawasan harus dilakukan dengan benar-benar demi kepentingan rakyat. Dan sebagai wakil rakyat, mereka juga (DPR) memang sudah selayaknya bekerja dan berjuang untuk kepentingan pihak yang diwakilinya (rakyat), bukan untuk dirinya, keluarganya atau bahkan untuk pejabat pemerintahan.

Dan sebagai wakil dari rakyat, mereka juga harus bersikap santun serta menghormati aspirasi yang disampaikan oleh rakyat baik secara langsung maupun tertulis, berbicara dengan sikap yang baik dan juga bisa berbaur bersama masyarakat dalam suasana yang nyaman dan bersahabat.

Tidak semua orang paham tentang fungsi dari DPR, dan mungkin sebagian besar masyarakat juga tidak peduli apakah mereka (DPR) sudah melaksanakan fungsinya atau belum. Yang masyarakat inginkan dan bisa mereka lihat dengan jelas adalah sikap dan tingkah laku DPR dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui media elektronik ataupun secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat didalam satu daerah. Masyarakat hanya berharap bahwa mereka (DPR) adalah orang yang bisa mewakilinya untuk menampung keluhan dan menyampaikan kepada pihak yang berkepentingan.

DPR adalah sebuah lembaga Negara dengan sekumpulan orang-orang pilihan, mereka kita pilih untuk menampung suara dan menyalurkan aspirasi rakyat. Ibarat sebuah tubuh, DPR adalah mulut, tangan dan kaki masyarakat diwilayahnya.

Namun kenyataan sangat berbeda dengan apa yang seharusnya terjadi. Banyak masyarakat yang justru kurang suka dengan keberadaan anggota DPR diwilayahnya, memang tidak semua anggota DPR tidak disukai, tapi dari hasil wawancara penulis dengan beberapa masyarakat yang pernah mengenal anggota dewan, sebagian besar memberikan pernyataan yang hampir sama, mereka kurang merakyat, angkuh dan terkesan ingin dihormati.

Bukan tanpa alasan masyarakat menilai seperti itu, penulis sendiri yang sering bertemu dan berkomunikasi dengan beberapa anggota dewan pernah merasakan hal tersebut. Ada beberapa anggota dewan yang memang terkesan ingin diperlakukan dengan hormat, berbicara dengan nada angkuh dan terkesan meremehkan lawan bicaranya. Tapi juga tidak bisa dipungkiri ada anggota DPR yang positif dan menyenangkan saat bertemu dan berbicara dengan mereka, tapi orang-orang seperti ini jumlahnya relatif lebih sedikit.

Dan orang-orang baik dari DPR akan semakin banyak pada masa-masa kampanye seperti sekarang ini, mereka sangat sopan, merakyat, peduli dan selalu berjanji akan memperjuangkan kepentingan rakyat. Tapi sesaat sesudah dilantik, semua akan kembali seperti sebelumnya jangankan untuk bisa menyampaikan aspirasi, buat ketemu saja akan sangat sulit. Mereka akan kembali pada sifat asli masing-masing.

Kita (rakyat) sebagai pemilih sudah saatnya berpikir cerdas dan selektif dalam menentukan pilihan pada pemilihan legislatif nanti. Jangan sampai kita salah dalam memilih wakil rakyat, kita sedang mencari orang yang bisa mewakili kita di lembaga negara untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Kita harus bisa menentukan pilihan kita atas dasar penilaian kita sendiri pada calon tersebut, bukan karena ketakutan, paksaan, hadiah ataupun janji-janji.

Untuk bisa menentukan pilihan dengan bijak kita harus mengetahui lebih dulu siapa calon tersebut, bagaimana latar belakangnya, apa program dan visi misi nya serta bagaimana sikapnya selama ini terhadap masyarakat. Bila kita bisa mengetahui semua itu, maka kita bisa menentukan calon tersebut layak kita pilih atau tidak. Dan bila kita masih buta dengan program dan visi misinya, setidaknya kita bisa menilai dari sikapnya selama ini pada masyarakat. Bila selama ini dia memang sosok yang santun, selalu mau terlibat dalam urusan kemasyarakatan dan bisa bersikap layaknya seorang yang bisa mengayomi semua pihak, mungkin itu bekal yang cukup buat kita jadikan dia seorang anggota DPR. Tapi bila yang kita ketahui malah sebaliknya, mungkin kita perlu berpikir ulang untuk memilihnya.

Pemilihan legislatif adalah mencari orang yang bisa mewakili kita, dia harus mempunyai sikap layaknya seorang wakil rakyat, berbicara dan bertindak demi kepentingan masyarakat dan mempunyai kesadaran bahwa dia adalah seorang wakil rakyat, dan seorang wakil tidak boleh arogan dan menghianati yang diwakilinya, karena dia hanya seorang wakil,,, bukan bos.

Mulyadi

Penulis adalah seorang Jurnalis dan Aktivis Sosisal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *